Saat ini anda mungkin bisa menghubungkan aplikasi peta atau maps dari ponsel ke head unit mobil anda. Namun, hanya itu yang dilakukan.
Sekarang coba bayangkan. Peta yang tampil di head unit mobil anda berasa dari sinyal di rambu-rambu dan lampu lalu lintas di jalan yang sedang atau akan anda lewati.
Apa yang terbayang di kepala anda? Kalau saya, mungkin lebih rasional dan akurat kondisi jalan yang ditampilkan di layer.
Kalau macet, ia dengan tepat mengukur jaraknya. Ia juga secara akurat mengarahkan mobil kita ke jalan alternatif yang lebih cepat dan bisa dilalui.
Satu hal yang mungkin tidak bisa dilakukan ponsel anda adalah, informasi jalan berlubang. Dengan koneksi seperti ini, head unit mobil anda secara real menampilkan kondisi jalan.
Dan tahukah anda kalau sistem seperti ini nyatanya sudah terlaksana di banyak negara maju? Namanya adalah Intelligent Transport System atau ITS.
Jika dibayangkan saat 10 atau 20 tahun yang lalu, rasanya mustahil mewujudkannya. Dan, ya, ini sudah terwujud.
Meski terbilang penemuan luar biasa karena bisa mengefektifkan perjalanan pengguna jalan, nyatanya Sejarah Intelligent Transport System ini cukup Panjang.
Apa Sebenarnya Intelligent Transport System Itu?
Intelligent Transport System adalah sistem transportasi pintar yang menghubungkan semua yang ada di jalanan. Ya, semua. Bukan hanya pengguna jalan saja.
Itu artinya, kendaraan akan terhubung ke rambu, lampu lalu lintas, jalan itu sendiri, bahkan pengendara lain. Tak lupa, pengguna jalan lain seperti pejalan kaki dan pesepeda juga bisa.
Untuk mewujudkan hal ini, semua pengguna jalan perlu menyadari pentingnya sistem tersebut. Dengan begitu, integrasi teknologi ke dalamnya lebih mudah.
Yang terjadi saat ini di kebanyakan negara termasuk Indonesia adalah, fasilitas jalan sudah terintegrasi teknologi. Namun, penggunanya tidak mau memanfaatkan. Jadi, ada rantai yang terputus.
Ya, kunci jalannya intelligent transport system adalah rantai koneksi yang tidak terputus antara semua yang ada di jalanan.
Memang, Apa Manfaatnya?
Kalau dipikir dari penjelasan di atas, mungkin kita akan khawatir akan privasi di jalanan. Padahal, hal tersebut sama sekali tidak terganggu.
Setiap pengguna jalan akan saling terhubung lewat hal-hal yang berkaitan dengan jalanan.
Misalnya, kondisi jalan yang rusak. Anda bisa mengirimkan gambar lalu dikirimkan ke sistem terdekat (misalnya lampu lalu lintas) agar dikirimkan ke pihak berwenang sekaligus menginformasikannya pada pengguna jalan lain.
Manfaat tidak hanya dirasakan pengguna jalan. Mengambil contoh di atas, data yang anda kirimkan bisa dikelola pihak berwenang sekaligus sebagai data untuk perbaikan.
Cara Kerjanya
Inti dari cara kerja Intelligent Transport System sebenarnya adalah semua yang ada di jalanan saling terhubung. Namun, dalam dunia internasional, cara kerja atau mekanisme ITS ini secara umum dibagi menjadi 3:
1. V2V
V2V merupakan kepanjangan dari Vehicle to Vehicle, alias komunikasi antara kendaraan dengan kendaraan.
Teknologi radio frekuensi antar kendaraan saling terhubung dan bisa melakukan komunikasi seperti contoh yang sudah disebutkan.
2. V2I
Vehicle to Infrastructure adalah kependekan dari V2I. Seperti namanya, ini adalah komunikasi antara kendaraan dengan infrastruktur jalan seperti rambu lalu lintas, lampu lalu lintas, kamera CCTV dan sebagainya.
3. V2X
V2X kepanjangannya adalah Vehicle to Everything. Artinya, kendaraan di jalanan bisa berkomunikasi dengan seluruh pengguna jalan. Pejalan kaki, pesepeda, bahkan pedagang di pinggir jalan.
Sejarah ITS
Sejarah Intelligent Transport System sebenarnya erat kaitannya dengan Sejarah perkembangan teknologi yang digunakan di jalanan. Misalnya, sejarah penggunaan DMS dan Ramp Management sebagai rambu lalu lintas sederhana.
Tak hanya untuk infrastruktur, tapi juga di kendaraannya. Misalnya, Sejarah ITS erat kaitannya dengan sejarah radar kendaraan, sejarah penggunaan peta digital, dan lain sebagainya.
Akan sangat Panjang jika kita uraikan semuanya disini. Namun secara garis besar, perkembangan Intelligent Transport System ini dibagi menjadi tiga masa waktu
1. Ide dan Konsep Awal
Ini terjadi di era 1930 sampai 1970 an. Dan yang tercatat pertama kali punya ide mengintegrasikan teknologi di jalan raya adalah Amerika Serikat lewat Program “Futurama”.
Pada tahun 1933, Pameran Dunia Chicago diselenggarakan untuk merayakan “abad kemajuan” yang dikenal sejak berdirinya kota tersebut.
Tujuannya adalah untuk melihat ke masa depan dengan memamerkan kemajuan industri pada masa itu.
Saat itu, pertumbuhan kendaraan khususnya mobil di AS sangat massif. Tiga besar produsen saat itu adalah General Motors, Ford dan Chrysler. Keberadaan mobil-mobil mereka di jalan memaksa pemerintah mengubah tata kotanya.
Pada tahun 1939, Pameran Dunia Industri di New York memamerkan konsep Futurama ini. Konsep yang dibawa oleh Norman Bel Geddes ini disetujui General Motors untuk dipamerkan di acara yang mereka gelar tersebut.
Futurama menampilkan model seperti apa kota masa depan dalam 20 tahun mendatang. Pada saat itu, membayangkan kota masa depan berarti mempertimbangkan semakin pentingnya peran mobil dalam ruang kota.
Norman Bel Geddes menampilkan animasi raksasa seluas 0,40 hektar. 500.000 bangunan, satu juta pohon dari 13 spesies berbeda, 50.000 mobil memenuhi kota jalan raya.
Dalam prototipe ini, empat ide utama dikembangkan. Pertama, setiap bagian jalan dirancang untuk menampung kapasitas lalu lintas yang lebih besar.
Kedua, lalu lintas yang bergerak ke satu arah dapat dipisahkan dari lalu lintas yang bergerak ke arah lain.
Ketiga, pemisahan lalu lintas dengan membagi kota-kota menjadi unit-unit tertentu untuk membatasi lalu lintas dan memungkinkan pejalan kaki lebih dominan. Dan keempat, pengendalian lalu lintas mencakup kecepatan maksimum dan minimum.
Di tahun 1960-an, Amerika Serikat berhasil mengembangkan Electronic Route Guidance System (ERGS). Sementara Jepang mengembangkan Comprehensive Automobile Control System (CACS). Keduanya merupakan contoh penerapan elektronik di jalan raya.
2. Pengembangan
Masa pengembangan terjadi di tahun 1980-an hingga 1990-an. Saat itu, mulai banyak negara yang mengembangkan sistem, bukan lagi sekedar alat.
Di Eropa misalnya, dikembangkan sistem Prometheus untuk pemantauan dan peringatan lalu lintas di jalanan. Selain itu, ada juga DRIVE yang didanai langsung oleh Uni Eropa.
Namun di era ini justru yang peningkatannya sangat cepat adalah Jepang. Mereka sukses mengembangkan Vehicle Information and Communication System (VICS).
Ini adalah sistem yang mengumpulkan data lalu lintas di jalanan. Tercatat, sistem seperti ini pertama kali di dunia. Melalui sistem ini, Jepang mampu mengendalikan angka kecelakaan di jalan raya seiring semakin berkembangnya produksi mobil dari pabrikan mereka.
3. Masa Modern
Mobil dan kendaraan lainnya semakin canggih. Walhasil, sistem jalan raya pun dibuat demikian. Jepang terus melaju dengan proyek VICS-nya. Di Tahun 2003, mereka resmi menerapkannya di seluruh jalan raya di negara tersebut. Mereka menamainya dengan Smartway.
Di tahun 2010an, konsep V2V dan V21 seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya semakin dikenal. Teknologinya macam-macam dan dikembangkan di banyak negara.
Puncaknya di tahun 2020, integrasi Internet of Thing (IoT) terjadi. Intinya, semua komponen di jalan raya bisa terhubung bukan hanya melalui aplikasi atau sistem, tapi jaringan internet yang lebih luas.
Organisasi ITS Amerika Serikat
Namun jika berbicara organisasi pertama yang berkecimpung secara khusus dalam Intelligent Transport System, Amerika Serikat adalah yang pertama.
Hal ini bermula dari laporan OECD (Organization for Economic Coorporation and Development) di Paris Tahun 1988.
Mereka menyebut, negara-negara maju setiap tahunnya kehilangan miliaran dolar AS dari bidang transportasi karena pengemudi tidak memiliki navigasi yang baik di jalan.
Tahun 1992, International Vehicle Highway System (IVHS) dibentuk di Amerika Serikat. Badan ini yang mengurus integrasi teknologi di jalan raya negara tersebut.
IVHS menghitung secara detail laporan OECD tersebut. Mereka menemukan bahwa pada tahun 1991 di Amerika Serikat 41.000 meninggal akibat kecelakaan lalu lintas dan lebih dari 5 juta orang terluka.
Mereka juga menyebut bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan faktor penghilang produktivitas yang merugikan AS mencapai 100 miliar dolar per tahun.
Dari temuan tersebut, IVHS mengambil Kesimpulan bahwa pengembangan teknologi jalan raya bisa menyelesaikan permasalahan tersebut. Maka, mereka mulai mengembangkan ITS.
ITS yang dikembagkan pada dasarnya adalah penggabungan faktor manusia (people), jalan (road), dan kendaraan (vehicles) dengan memanfaatkan stade of the art teknologi informasi.
Rajeev Verma dan Domitilla Del Vecchio, peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), mengembangkan sebuah sistem keamanan yang bertujuan untuk menghindari terjadinya tabrakan.
Setelah sukses dengan terwujudnya berbagai teknologi seperti cruise control, sensor mobil, serta traction control yang banyak dipasang di mobil modern, mereka lalu mengembangkan teknologi yang memungkinkan sistem mengambil alih kemudi.
Del Vecchio dan Verma melakukan percobaan algoritma dengan menggunakan dua kendaraan mini dalam satu lintasan berliku. Satu kendaraan dikontrol oleh komputer dan satu lagi dikontrol oleh manusia.
Percobaan ini diikuti oleh delapan orang sukarelawan dan 100 kali percobaan. Dari semua percobaan tersebut, 97 di antaranya menunjukkan keberhasilan.