Dari dulu hingga sekarang, dikotomi sistem penguncian selalu sama: anda membutuhkan kunci untuk membuka gembok/pintu.
Sistem penguncian bahkan sudah ada sejak zaman Mesir kuno dari ribuan temuan kunci kayu oleh para ilmuwan dan sejarawan. Bentuknya besar dan berat. Tentu sangat tidak ideal digunakan sekarang.
Pada akhirnya, sebuah teknologi, apapun bentuknya, pasti berevolusi. Di zaman modern, trend yang berlaku adalah membuat alat seminimal mungkin dengan kinerja semaksimal mungkin.
Termasuk dalam sistem penguncian, saat ini berkembanglah smart lock atau sistem penguncian pintar. Bahkan kalau anda berkunjung ke berbagai perumahan baru, bisa dipastikan sistem penggunaannya seperti ini.
Smart Lock merupakan bagian dari Internet of Things. Anda bisa membaca sejarah IoT di tautan yang kamui sematkan. Namun di artikel ini, kita akan membahas secara spesifik sejarah Smart Lock yang sangat menarik.
Apa Itu Smart Lock?
Seperti namanya, smart lock adalah sistem penguncian pintar dimana bisa berjalan secara otomatis. Namun, smart lock juga bisa diartikan sebagai sistem penguncian modern yang berkembang dari sistem konvensional.
Dari sini kita bisa mendapatkan dua definisi. Smart Lock yang bisa diatur waktu buka-tutupnya secara otomatis (contohnya pengaturan melalui telepon seluler), dan smart lock yang menggunakan mekanisme modern seperti digital/elektromagnetik (seperti sidik jari, RFID, dan sebagainya).
Pada dasarnya, keduanya merupakan satu kesatuan. Dan yang paling penting, tidak ada definisi pasti apa itu smart lock yang jadi acuan.
Jadi, tidak usah bingung. Sejarah smart lock yang akan kita bahas disini merujuk pada keduanya. Atau dengan kata lain, apapun sistem penguncian modern yang berlaku saat ini.
Kenapa Orang Beralih ke Smart Lock?
Kita tentu masih sering melihat sistem penguncian konvensional seperti pintu rumah dengan kunci dan gembok dengan pinnya. Tapi, popularitasnya tak sebanyak dulu sejak adanya smart lock.
Sejarah smart lock sangat panjang. Para ilmuwan mengembangkannya berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun hingga terbentuklah sistem ideal seperti sekarang. Selain itu, memang karena banyak manfaatnya. Berikut diantaranya:
1. Orang Modern itu Malas
Kita semua mau yang mudah, bahkan untuk sekedar membuka pintu! Mungkin ini fakta yang menyakitkan. Tapi, kenyataannya memang seperti itu.
Kalau bisa, kontak seminimal mungkin. Dan smart lock menggunakan sensor biometrik (sensor tubuh manusia, termasuk wajah) pun terwujud.
Bayangkan, untuk membuka pintu saja kita “malas” memegang gagangnya dan mengorbankan muka untuk jadi kuncinya!
Oke kalau mau alasan lebih halus dan tetap masuk akal adalah, orang modern saat ini membutuhkan efisien waktu maksimal.
Hal-hal kecil seperti membuka pintu sangat diperhatikan. Meski benar-benar tidak memakan waktu lama, tapi kalau bisa dibuat lebih cepat, kenapa tidak?
2. Orang Modern itu Pelupa
Loh, kok, kasar lagi?! Lagi-lagi, memang faktanya demikian. Di zaman kunci konvensional, seberapa sering kita lupa menaruh kunci? Kalau dikumpulkan dari jalanan, mungkin bisa ber ton-ton kunci yang ditemukan!
Dengan adanya smart lock, kita tidak perlu lag kunci atau pin fisik. Karena kuncinya itu, ya, menempel di tubuh kita (sidik jari, biometrik, sensor mata, dan sebagainya).
Oke kalau sebutan pelupa terlalu kasar, kita ubah menjadi lebih halus. Orang modern itu simpel. Tidak mau ribet membawa banyak barang. Bahkan kalau bisa, kemana-mana cukup bawa hp dan dompet saja. Dan smart lock yang terintegrasi internet adalah jawabannya.
3. Keamanan
Ini tidak akan kasar. Dan keamanan, memang dibutuhkan semua orang. Pun saat sistem penguncian pertama kali ditemukan, alasannya memang untuk keamanan.
Di sistem penguncian konvensional memakai kunci, sudah banyak berita sebuah rumah dibobol maling dengan mencongkel gembok atau pengunci pintu.
Di sistem smart lock, pembobolan seperti itu sebenarnya, ya, bisa-bisa saja. Tapi pencongkelan akan sangat kasar dan mudah diketahui oleh orang rumah.
Selain itu, sistem smart lock biasanya dibekali sistem gada seperti sidik jari dan password. Ini juga akan memusingkan si maling.
Sistem yang lebih canggih bahkan disertai dengan kamera dan sensor panas untuk mengidentifikasi pergerakan mencurigakan.
Sejarah Smart Lock
Kita masuk ke pembahasan utama. Seperti dijelaskan di awal, sejarah smart lock ini menarik ditelusuri karena sudah ada sejak zaman kuno.
1. Sejarah Sistem Penguncian Awal
Berbicara sejarah smart lock, tentu kita perlu membahas akarnya, yakni sistem penguncian yang sudah ada ribuan tahun yang lalu.
Selama ribuan tahun, kunci pintu adalah satu-satunya cara untuk mencegah orang masuk/keluar ruangan atau bangunan. Para arkeolog telah menemukan kunci primitif berusia 6 ribu tahun di berbagai belahan dunia.
Terlepas dari keterbatasannya yang mudah dibobol, seperti dijelaskan, konsep dasar “kunci dan gembok”, di mana kunci fisik diperlukan untuk mengakses ruang yang terkunci, membentuk dasar keamanan pintu yang ada hingga saat ini.
2. Pengembangan Gembok
Benarkah pada tahun 1700-an, konsep desain kunci dan gembol berevolusi. Bayangkan, hampir 5 ribu tahun konsep sistem penguncian itu bisa bertahan!
Gembok tuas-silinder ditemukan oleh Robert Barron pada tahun 1778. Sistem penguncian ini sama sekali tidak menggunakan pin (kunci) dalam desainnya.
Kunci ciptaan Barron ini menggunakan konsep pemilihan kunci mengangkat tuas untuk melepaskan baut pengunci. Namun, sebenarnya konsepnya sama saja. Hanya saja kuncinya menempel di gembok itu sendiri.
Seiring dengan semakin majunya mekanisme internal gembok, begitu pula kuncinya, barulah di tahun 1800-an kita mengenal sistem gambok seperti saat ini. Gembok yang dikenal dengan Gembok Yale ini ditemukan oleh Linus Yale Sr. pada tahun 1848.
3. Penggunaan Punch Card
Hotel yang menang sejak dahulu dikenal sebagai tempat menginapnya kaum kelas atas, mulai menggunakan mekanisme penguncian lain selain sistem kunci dan gembok.
Di tahun 1970an, banyak hotel menggunakan sistem punch card. Uniknya, sebenarnya sistem ini sudah ada sejak 1725 dan dipatenkan oleh Herman Hollerith pada tahun 1884. Dulunya, paten ini untuk penyimpanan data.
Punch Card mengharuskan pemegang kartu untuk menggeser kartu unik dengan tonjolan atau lubang ke dalam “pembaca”. Setelah itu, pembaca akan melepaskan mekanisme penguncian dengan metode yang mirip dengan kunci dan gembok konvensional.
Bisa dibilang, sejarah smart lock ini dimulai dari Punch Card karena sistem ini yang mendobrak dominasi “kunci dan gembok” yang sudah bertahan ribuan tahun.
4. Penggunaan Kartu Elektromagnetik
Di awal sudah dijelaskan, smart lock adalah sistem yang menggunakan mekanisme digital atau sistem elektromagnetik. Dan pertama kali sistem elektromagnetik digunakan untuk sistem penguncian diketahui terjadi di tahun 1980-an.
Saat itu, sistem punch card sudah usang. Meski Tor Sornes sempat menemukan sistem yang mampu mengkodekan ulang sehingga kartu bisa digunakan berkali-kali (karena awalnya, punch card yang sudah dipakai harus dibuang).
Uniknya, sistem ini sebenarnya sudah dikembangkan oleh insinyur IBM, Forrest Parry di tahun 1960-an. Awalnya, digunakan untuk keamanan data. Namun baru digunakan secara konvensional usai masa punch card habis.
Ini adalah jenis kartu plastik yang memiliki strip magnetik di bagian belakangnya. Strip tersebut terdiri dari partikel magnetik berbasis besi kecil yang tertanam dalam lapisan plastik.
Ketika kartu digesekkan melalui pembaca strip magnetik, pembaca mendeteksi medan magnet partikel dan mengubah informasi ini menjadi data digital untuk membuka kunci.
Namun, kartu magstripe memiliki kerentanan keamanan. Semua kartu magstripe pada akhirnya akan mengalami demagnetisasi.
Selain itu, berdasarkan konfigurasinya, pembaca kartu magstripe dapat dimanipulasi oleh peretas yang memiliki informasi untuk mendapatkan akses.
5. Smart Lock dengan RFID
Dua penemuan besar membantu merevolusi sistem akses kartu menjadi seperti sekarang ini. Pertama, internet mengubah dunia pada tahun 1990-an, memungkinkan pembuatan basis data dan jaringan berbasis server.
Kedua, Identifikasi Radio Frekuensi (RFID) diciptakan, termasuk untuk mengatasi masalah demagnetisasi pada kartu magstripe.
Dalam sistem keamanan pintu RFID, data identifikasi unik di program ke kartu (“kunci”), dan kartu tersebut membagikan data tersebut ketika berada di dekat pembaca kartu melalui gelombang elektromagnetik.
Data tersebut kemudian diproses melalui basis data akses kartu. Jika kartu tersebut telah diprogram untuk mengakses pintu tertentu, kunci magnetik akan terlepas dan akses terbuka.
dengan kecanggihannya, tak pelak Sistem akses kartu RFID adalah solusi keamanan paling efektif untuk bisnis modern.
Pemindaian kartu dapat dijalankan terhadap basis data untuk menentukan apakah pengguna X diizinkan masuk melalui pintu Y pada waktu Z.
Program ini bahkan dapat diinstruksikan untuk hanya mengizinkan kartu dipindai “masuk” jika ada pemindaian “keluar” yang sesuai. Hal ini mencegah seseorang masuk, keluar pintu, dan memberikan kartu tersebut kepada orang lain.
Basis data bahkan dapat digunakan untuk beberapa lokasi. Hal ini memungkinkan akses ke satu orang di satu gedung, beberapa gedung, atau semua gedung di beberapa lokasi sekaligus.
6. Integrasi Internet
Di sistem RFID, sebetulnya masih menggunakan “kunci dan gembok” namun dengan sistem elektromagnetik.
Pada tahun 1999, pintu yang awalnya berperan sebagai “reader” di sistem RFID, dengan integrasi internet, jadi pengontrol utama. Di zaman itu, tetap menggunakan kartu yang diprogram secara individual.
Seperti kita ketahui, saat ini banyak smart lock bisa dikendalikan melalui aplikasi di telepon seluler. Aplikasi ini jadi semacam remote control (baca sejarah remote control di tautan yang disematkan). Dan tentu saja, menjalankan aplikasinya butuh sambungan internet.
Namun, kelemahan utama dari sistem adalah ketergantungannya sepenuhnya pada internet. Karena itu, rentan terhadap masalah terkait internet seperti kegagalan jaringan dan lalu lintas yang padat.
7. Pemindai Biometrik
Film seperti Mission Impossible yang tenar di awal abad 21 menjadi bukti semakin berkembangnya sistem smart lock. Film seperti ini yang mempopulerkan pemindaian menggunakan bagian tubuh.
Namun faktanya, pemindaian yang menggunakan karakteristik fisiologis manusia ini sudah dikembangkan sejak tahun 1980-an.
Sidlauskas mematenkan perangkat untuk pemindaian tangan dan kemudian mendirikan Recognition Systems Inc. di Campbell, California.
Cara kerjanya, sistem ini menangkap gambar tangan, membandingkannya dengan tangan “yang diterima” yang tersimpan dalam basis data, dan mengizinkan atau menolak akses berdasarkan hasil perbandingan. Sistem ini yang jadi awal mula penggunaan sidik jari untuk membuka pintu.
John Daugman kemudian mengembangkan pemindaian berbasis Iris mata di tahun 1990-an. Cara kerjanya mirip dengan pemindaian tangan namun lebih kompleks.
Pemindai iris lebih presisi daripada pemindai geometri tangan. Tapi tetap saja memiliki kekurangan. Banyak pemindai ditipu oleh gambar berkualitas tinggi dari mata atau wajah yang “diterima”.
Sistem Mana yang Terbaik?
Dari penjelasan sejarah smart lock di atas kita bisa mengetahui kalau saat ini sistem penguncian modern didominasi oleh tiga program: penggunaan gelombang elektromagnetik melalui RFID, pemindaian biometrik serta integrasi internet yang dikontrol lewat ponsel.
Semua punya kelebihan dan kekurangan. Tergantung kebutuhan dan bagaimana pola aktivitas anda dalam penguncian.
Bahkan sebuah smartlock bisa menggabungkan sistem. Pemindai tangan atau iris sebagai sistem utama dan membutuhkan kunci fisik atau kartu RFID untuk menambah kerumitan bagi pelaku kejahatan.